ABOUT - ALBUM - POEMS - WRITING - TESTS - JOURNAL - WEBSITE - CONTACT  
 


Depresi
Oleh: Yamin Setiawan

Apakah itu depresi?

Depresi adalah suatu kesedihan yang amat sangat, merasa menjadi orang yang paling malang, putus asa, merasa tidak berguna. Reaksi depresi dipicu oleh suatu keadaan atau kejadian yang menyebabkan seseorang merasa kehilangan. Depresi bisa disebabkan karena kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang disayangi, menderita penyakit yang amat parah, hampir mati, penghasilan yang menurun drastis, reputasi yang jelek, harga diri, tenaga, atau kepercayaan diri. Semua gejala depresi itu muncul akibat ketidakseimbangan neurotransmitter (zat penghantar dalam sistem syaraf) seperti serotonin (neurotransmitter yang mengatur perasaan), norepinefrin (neurotransmitter yang mengatur energi interest), dan dopamine (neotransmitter yang mengatur minat) di berbagai bagian otak kita.

Menurut Wikipedia sendiri, depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri.

Teori pada Psychology of Dying (dipakai juga oleh para ahli sebagai tahap emosi maupun tahap-tahap penerimaan), Elizabeth Kubler Ross (1969) membagi menjadi 5 tahapan dalam penerimaannya dalam menghadapi depresi (khusus pada proses kematian, menghadapi duka cita yang mendalam, menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dll). Tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:

  1. Denial / Penolakan
    Respon dimana dia tidak percaya atau menolak terhadap apa yang dihadapi / sedang terjadi. Yang bersangkutan tidak siap terhadap kondisi yang dihadapi dan dampaknya.
    Pada tahapan ini sebaiknya kita tidak memaksakan orang tersebut untuk percaya dengan apa yang kita katakan. Yang bisa kita lakukan adalah meyakinkan bahwa apapun yang terjadi dengan dirinya kita berjanji akan selalu men-support dia. Seandainya pada saat itu dia meluapkan emosinya, biarkan saja dia melampiaskan. Kerena justru dengan memaksa dia percaya, dia akan semakin memberontak dan hubungan kita akan semakin buruk karena kita akan dinilai membohongi orang tersebut.
  2. Anger / Marah
    Rasa kemarahan ini sering sulit dipahami oleh keluarga / orang terdekat oleh karena dapat terpicu oleh hal-hal yang secara normal tidak menimbulkan kemarahan. Rasa marah ini sering terjadi karena rasa tidak berdaya, bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada orang-orang yang secara emosional punya kedekatan hubungan dengan mereka. Pertanyaan yang sering muncul dibenaknya adalah: Kenapa aku? Kenapa bukan orang lain? Dia marah pada Tuhan serta pada orang-orang di sekelilingnya.
    Menghadapi orang dengan fase ini cukup sulit. Yang dapat kita lakukan menyadarkan perasaan dia yang sebenarnya tentang apa yang membuat dia marah, menyadarkan bahwa dia mengalami suatu perasaan duka cita dan rasa kehilangan yang cukup dalam. Menghadapi orang seperti itu dapat dilakukan melalui pendekatan empatik (berusaha memahami perasaan orang tersebut, tidak berarti ikut merasakan apa yang dia rasakan) serta menggunakan respon nondefensif.
  3. Bargaining / Tawar menawar
    Klien mencoba untuk melakukan tawar menawar dengan Tuhan agar terhindar dari kehilangan yang akan terjadi, ini bisa dilakukan dalam diam atau dinyatakan secara terbuka. Secara psikologis, tawar menawar dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau dosa masa lalu.
    Pada tahapan ini, kita berusaha tetap men-support-nya.
  4. Depression / Kesedihan mendalam
    Rasa kesedihan yang mendalam sebagai akibat kehilangan.
    Yang terjadi pada seseorang dengan tahapan ini adalah dia akan mengalami tanda-tanda depresi antara lain tidak punya harapan, gangguan tidur, menarik dari dari lingkungan social, bahkan sampai ide bunuh diri. Depresi dapat terjadi sebagai reaksi terhadap masalah namun juga bisa sebagai bentuk antisipasi terhadap rasa kehilangan yang mungkin selanjutnya akan terjadi lagi. Bila sudah muncul ide bunuh diri, maka orang tersebut membutuhkan pengobatan.
  5. Acceptance / Menerima
    Pada tahap ini, klien memahami dan menerima keadaannya, yang bersangkutan mulai kehilangan ketertarikan dengan lingkungannya dan dapat menemukan kedamaian dengan kondisinya.
    Pada tahapan ini adalah tahapan saat orang tersebut sudah menyadari apa yang terjadi dan bagaimana harus menyikapi. Dia sudah dapat menerima keadaan buruk yang menimpanya. Mood yang akan tampak bisa netral bisa juga sedikit euphoria (kegembiraan yang berlebihan).
Setiap orang saat menghadapi rasa kehilangan atau saat menghadapi suatu tekanan pasti akan melalui kelima tahapan tersebut. Tidak ada kepastian bahwa setiap orang akan melalui seluruh tahap tersebut, bisa saja ia mulai berada pada tahap bargaining, atau bahkan langsung ke tahap acceptance. Tahapan tersebut diatas tidak selalu secara berurutan, namun tujuan akhirnya adalah sampai pada tahap acceptance. Kita hanya berupaya agar dia dapat masuk ke tahap acceptance secara cepat, tapi hal itu tidaklah mudah karena waktunya tidak bisa diperkirakan. Bantuan moral atau support psikologis akan membantu orang tersebut mencapai tahap acceptance sesegera mungkin dan mengatasi problem-problem yang ditemui di setiap tahapan. Obat yang paling manjur baginya adalah memahami apa yang ada didalam perasaannya.

14 Juli 2010


Reviews:
***** [JuL 09, 2012] by Eka Reskiansyah
Sangat menarik.

 
Copyright  2006 Yamin Setiawan